Toples Kehidupan

Februari 17, 2017

Seorang guru besar di depan audiens nya memulai materi kuliah dengan menaruh topless yang bening dan besar di atas meja, lalu mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi.
Beliau bertanya: "Sudah penuh?"
Audiens menjawab: "Sudah penuh".

Lalu Beliau mengeluarkan kelereng dari kotaknya dan menuangkannya ke dalam toples tadi. Kelereng mengisi sela2 bola tenis hingga tidak muat lagi. 

Beliau bertanya kembali: "Sudah penuh?"
Audiens pun menjawab: "Sudah, pak ".
Setelah itu sang guru mengeluarkan pasir pantai dan memasukkannya ke dalam topless yang sama. Pasir pun mengisi sela-sela bola & kelereng hingga penuh. Semua sepakat kalau topless sudah penuh dan tidak ada yg bisa dimasukkan lagi ke dalamnya.Tetapi sang guru menuangkan secangkir air kopi ke dalam toples yang terlihat sudah penuh tadi.

Sang Guru kemudian berkata : "Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti topless. Masing-masing dari kita berbeda ukuran toplesnya. Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orang tua, istri/suami, anak-anak, makan, tempat tinggal dan kesehatan. Kelereng adalah hal-hal yg penting, seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dan lain-lain. Pasir adalah hal lain dalam hidup kita, seperti olah raga,rekreasi, media sosial,  kendaraan dan lain sebagainya."

terhenti sejenak, Guru besar  tersebut menebarkan pandangan pada hadirin, lalu melanjutkan penjelasannya 
" Jika kita isi hidup kita dgn mendahulukan pasir hingga penuh, maka kelereng dan bola tennis tidak akan bisa masuk. Berarti, hidup kita hanya berisikan hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sementara Tuhan dan keluarga terabaikan.  Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu kelereng dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita akan lengkap, berisikan mulai dari hal-hal yang besar dan penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap. Karenanya, kita harus mampu mengelola hidup secara cerdas dan bijak, tahu menempatkan mana  prioritas dan mana  pelengkap. Jika tidak, maka hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa jadi sia-sia. Semoga penjelasan saya dapat dipahami".

"lalu apa arti secangkir air kopi yg dituangkan tadi Prof?", tanya seorang audien tiba-tiba.
diawali dengan senyuman ramah, Guru besar pun menjawab :"Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturahim sambil "minum kopi" ..... dengan tetangga, teman, sahabat yg hebat. Jangan lupa sahabat lama. Saling bertegur sapa, saling senyum bila berpapasan ..... betapa indahnya hidup ini."

Disadur  dari Line @Motivasi dan disunting oleh Blogger

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images