Teori Motivasi

Januari 09, 2017

Setiap motivasi berusaha untuk menguraikan apa sebenarnya manusia dan manusia dapat menjadi seperti apa.dengan alasan ini, bisa dikatakan bahwa sebuah teori motivasi mempunyai isi dalam bentuk pandangan tertentu mengenai manusia. 

Isi teori motivasi membantu kita memahami keterlibatan dinamis tempat organisasi beroperasi dengan menggambarkan manajer dan karyawan saling terlibat dalam organisaasi setiap hari. Teori motivasi ini juga membantu manajer dan karyawan untuk memecahkan permasalahan yang ada di organisasi.
Tidak ada organisasi yang dapat berhasil tanpa meningkatkan komitmen dan usaha tertentu dari para anggotanya. Karena alasan itu, para manajer dan pakar manajemen selalu merumuskan teori-teori tentang motivasi. Sutrisno, (2009:130) menuliskan  teori motivasi dikelompokkan  dua aspek, yaitu teori kepuasan dan teori motivasi proses.
I.     Teori Kepuasan
Teori ini mendasarkan pada pendekatannya  atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkan bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, mendukung dan menghentikan perilakunya. Teori ini mencoba menjawab pertanyaan kebutuhan apa yang memuaskan seseorang dan mendorong semangat bekerja seseorang. Kebutuhan dan pendorong itu adalah keinginan memenuhi kepuasan material maupun nonmaterial yang diperolehnya dari hasil pekerjaannya.
Pada dasaaarnya teori ini mengemukakan bahwa seseorang akan bertindak untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasannya. Semakin tinggi standar kebutuhan dan kepuasan yang diinginkan, semakin giat orang itu bekerja. Tinggi atau rendahnya tingkat kebutuhan dan kepuasan yang ingin dicapai seseorang mencerminkan semangat kerja orang tersebut.
Teori kepuasan tersebut dipelopori oleh F.W Taylor, Abraham Maslow, McChelland, Freederick Herberg, Clayton P. Aldefer dan Douglas McGregor.
1.      F. W. Taylor Dengan Teori Motivasi Konvensional
Teori motivasi konvensional ini termasuk content theory, karena F.W Taylor memfokuskan teorinya pada anggapan bahwa keinginan untuk pemenuhan kebutuhannya yang menyebabkan orang mau bekerja keras. Dengan teori ini, dapat disebutkan bahwa seseorang akan mau berbuat atau tidak berbuat didorong oleh ada atau tidaknya imbalan yang akan diperoleh yang bersangkutan. Oleh karena itu, seorang pemimpin haruslah berusaha memberikan imbalan berbentuk materi, agar bawahannya bersedia diperintah melakukan pekerjaan yang telah ditentukan. Jika besar imbalan ini bertambah, maka intensitas pekerjaan pun akan dapat dipacu. Jadi, dallam teorini pemberian imbalanlah yang memotivasi seseorang melakukan pekerjaan.

2.      Abraham H. Maslow  dengan Teori Hierarkhi
Teori motivasi yang dikembangkan oleh maslow mengemukakan bahwa kebutuhan manusia ini dapat diklasifikasikan ke dalam lima hierarki sebagai berikut :
a)      Kebutuhan fisiologis (Physiological)
Kebutuhan mempertahankan hidup ini disebut juga dengan physiogical needs yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidup dari kematian. Kebutuhan ini merupakan tingkat paling dasar berupa kebutuhan akan makan, minum, perumahan, pakaian yang harus dipenuhi oleh seseorang dalam upayanya untuk mempertahankan diri sendiri dari kelaparan, kehausan, kedinginan, kepanasan, dan sebagainya. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebutlah yang mendorong orang untuk mengerjakan suatu pekerjaan, karena dengan bekerja itu ia mendapat imbalan (uang, materi) yang akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tadi.
b)      Kebutuhan rasa aman (safety)
Setelah kebutuhan tingkat dasar terpenuhi, sesorang berusaha memenuhi kebutuhan tingkat lebih atas, yaitu keselamatan dan keamanan diri dan harta bendanya.
c)      Kebutuhan hubungan sosial (affiliation)
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk  hidup bersama dengan orang lain. Kebutuhan ini hanya dapat terpenuhi bersama masyarakat, karena memang orang lainlah yang dapat memenuhinya, bukan diri sendiri.misalnya, setiap orang normal butuh akan kasih sayang, dicintai, dihormati, diakui keberadaanya oleh orang lain.
d)     Kebutuhan pengakuan (esteem)
Setiap orang yang normal membutuhkan adanya penghargaan diri dan penghargaan prestisediri di lingkungannya. Penerapan pengakuan atau penghargaan diri ini biasanya terlihat dari kebiasaan untuk menciptakan simbol-simbol, dan dengan simbol itu kehidupan dirasa lebih berharga. Dengan simbol-simbol itu ia merasa bahwastatusnya meningkat, dan dirinya sendiri diseegani dan dihormati orang. Simbol-simbol  dimaksud dapat berupa bermain tennis, golf, merk pakaian, tempat belanja dan sebagainya.
e)      Kebutuhan aktualisasi diri
Kebutuhan aktualisasi diri merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan puncak ini biasanya seseorang bertindak bukan atas dorongan ornag lain, tetapi karena kesadaran dan keinginan sendiri. Dalam kondisi ini seseorang ingin memperlhatkan kemampuannya masing-masing. Hal tersebut terlihat pada kegiatan pengembangan kapasitas melalui berbagai cara seperti diskusi, ikut seminar, yang sebenarnya bukan disorong karena ingin mendapatkan pekerjaan, namun berasal dari dorongan ingin memperlihatkan bahwa ia ingin mengembangkan kapasitas prestasinya yang optimal. Kebutuhan aktualisasi diri mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan kebutuhan lain, yaitu :
                                           
i. Tidak dapat dipenuhi dari luar, karena harus dipenuhi dengan usaha pribadi itu sendiri;

ii. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri ini biasanya seiring dengan jenjang karier seseorang, dan tidak semua orang mempunyai tingkat kebutuhan seperti ini.

3.      David Mc. Clelland dengan Teori Motivasi Prestasi
Teori disebut juga dengan teori motivasi prestasi. Menurut teori ini ada tiga komponn dasar yang dapat digunakan untuk memotivasi orang bekerja, yaitu  need for achievement, need for affiliation, dan need of power.
a)      Need for Achievement
Merupakan kebutuhan untuk mencapai sukses yang diukur berdasarkan standar kesempurnaan dalam diri seseorang. Kebutuhan ini berhubungan erat dengan pekerjaan, dan mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi tertentu.
b)      Need for affiliation
Merupakan kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam hubungan dengan orang lain  ebutuhan ini mengarahkan tingkah laku untuk mengadakan hubungan secara akrab dengan orang lain.
c)      Need of power
Kebutuhan untuk menguasai dan memengaruhi orang lain. Kebutuhan ini menyebabkan orang yang bersangkutan tidak atau kurang memedulikan perasaan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga kebutuhan tersebut aka selalu muncul pada tingkah laku individu, hanya kekuatannya tidak sama antara kebutuhan-kebutuhan itu pada siri sesorang. 
Munculnya ketiga kebutuhan tersebut sangat dipengaruhi oleh situasi yang sangat spesifik. Apabila tingkah laku individu tersebut didorong oleh ketig akebutuhan, tingkah lakunya akan menampkakkan cir-ciri sebagai berikut :
a)      Tingkah lakuindividu yang disorong oleh kebutuhan berprsetasi akan tampak sebagai berikut :
                                                    i.      Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif;
                                                  ii.      Mencari feedback (umpan balik) ;
                                                iii.      Memilih risiko yang moderat (sdang) di dalam perbuatannya, dengan memilih risiko yang sedang dan masih ada peluang untuk berprestasi yang lebih tinggi;
                                                iv.      Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatannya.
b)      Tingkah laku yang didorong oleh kebutuhan persabatan akan tampak sebagai berikut :
                                                 i.      Lebih memerhatikan lagi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaannya daripada tugas-tugas yang ada pada pekrjaan;
                                                  ii.      Melakuka pekerjaan lebih efektif apabila bekerja sama dengan orang lain dalam suasana lebih kooperatif;
                                                iii.      Mencari persetujuan atau kesepakatan dari orang lain;
                                                iv.      Lebih suka dengan orang lain dari pada sendirian.
c)      Tingkah laku yang didorong oleh kebutuhan berkuasa akan tampak sebagai berikut:
                                                    i.      Berusaha menolong orang lain walaupun pertolongan itu tidak diminta;
                                                  ii.      Sangat aktif menentukan arah kegiatan organisasi tempat ia berada;
                      iii.   Mengumpulkan barang-barang  atau menjadi anggota suatu perkumpulan yang dapat mencerminkan prestise;
                                                iv.      Sangat peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok atau organisasi.
Teori kebutuhan McChallend mungkin paling tepat diterapkan untuk memahami karier-karier organisasi perusahaan dan manajer. Mereka mengenal ketiga kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan untuk berhasil, kebutuhan untuk berkuasa dankebutuhan untuk bersahabat.

4.      Fredrick Herzberg dengan Teori Model dan Factor
Sebenarnya teori ini merupakan pengembangan dari teori hierarki kebutuhan Maslow.  Menurut teori pemeliharaan motivasi ini ada dua faktor yang memengaruhi kondisi pekerjaan seseorang, yaitu :
a)      Faktor pemeliharaan (maintenace factor)
Faktor pemeliharaan disebut juga hygiene factor merupakan faktor yang berkaitan dengan pemenuhan kebuthan untuuk memelihara keberadaan karyawan sebagai manusia, pemeliharaan ketenteraman dan kesehatan.
Faktor pemiliharaan adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan hakikat manusia yang ingin mendapat ketenteraman badaniah. Kebutuhan kesehatan ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus karena kebutuhan ini kaan kembali ke titik nol setelah dipenuhi.  Misalnya orang lapar akan makan, kemudian makan lagi, lalu makan lagi dan seterusnya. Hilangnya faktor pemeliharaan ini dapat menyebabkan timbulnya ketidakpuasan dan absennya karyawan, bahkan dapat menyebabkan banyak karyawan yang keluar.
Faktor-faktor pemeliharaan ini perlu mendapat perhatian yang wajar dari pimpinan, agar kepuasan dan kegairahan bekerja bawahan dapat ditingkatkan. Faktor-faktor pemeliharaan bukanlah merupkan motivasi bagi karyawan, namun merupakan keharusan yang harus diberikan pimpinan kepada mereka demi kesehatan dan kepuasan bawahan.

b)      Faktor motivasi (motivation factors)
Faktor pemus yang disebut juga faktor motivator merupakan faktor pendorong seseorang untuk berprestasi yang bersumber dari dalam diri orang yang bersangkutan (intrinsik). Faktor motivator ini mencakup :
                                               i.      Kepuasan kerja;
                                             ii.      Prestasi yang diraih;
                                           iii.      Peluang untuk maju;
                                           iv.      Kemungkinan pengembangan karier;
                                             v.      Tanggung jawab.

5.      Clayton P. Alderfer dengan teori ERG
Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) merupakan modifikasi dari teori hierarki kebutuhan Maslow. Dimaksudkan untuk memperbaiki beberapa kelemahan teori Maslow. Dalam memodifikasi ini memanfaatkan kelima tingkat kebutuhan Maslow menjadi tiga kebutuhan saja. Setiap orang perlu memenuhi tiga kebutuhan tersebut dengan sebaik-baiknya.
a)      Existence (Keberadaan)
Existance merupakan kebutuhan seseorang dapat dipengaruhi dan terpeliharanya keberadaan yang bersangkutan sebagai manusia di tengah-tengah masyarakat atau perusahaan, Existence ini meliputi kebutuhan psikologi (rasa lapar, haus, tidur) dan kebutuhan rasa aman. Oleh karena kebutuhan ini amat mendasar untuk dipenuhi dengan sebaik-baiknya, agar konsentrasi pikiran dan perhatian karyawannya termasuk melaksanakan pekerjaan.
b)      Relatedness (Kekerabatan)
Kekerabatan merupakan keterkaitan antara seseorang dengan lingkungan sosial sekitarnya. Setiap orang dalam hidup dan pekerjaannya selalu berhubungan dengan orang. Dalam teori kekerabatan ini mencakup semua kebutuhan  yang melibatkan seseorang dengan orang lain. Mereka akan terlibat dalam kegiatan saling menerima, pemberian pengertian, dan sebagainya yang merupakan proses kekerabatan. Kebutuhan ini sebanding dengan kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial dan sebagian kebutuhan prestise, dalam teori Maslow. Seorang pemimpin yang mempunyai bawahan haruslah memerhatikan kebutuhan kekerabatan ini yang terdapat pada diri setiap orang, dan berupaya memenuhinya dengan semampunya.
c)      Growth (Pertumbuhan)
Kebutuhan akan pertumbuhan dan perkembangan ini merupakan kebutuhan berkaiatan dengan pengebangan potensi diri seseorang , seperti pertumbuhan kreativitas dan pribadi. Kebutuhan ini sebanding dengan kebutuhan harga diri dan perwujudan diri. Dalam kebutuhan ini akan dikombinasikan kedua kebutuhan tersebut. Walau dilihat dari kebutuhan masing-masing yang sangat berbeda. Akan tetapi, fokus perhatian dan perkembangan, maka cara pengkombiansian ini dapat diterima. Bila kebutuhan ini dapat dipenuhi, diikuti pribadi yang bersangkutan mendorong dirinya secara penuh mengembangkan kapasitas pribadinya sendiri.
Teori ERG ini, oleh para ahli dianggap lebih mendekati keadaan sebenarnya berdasarkan fakta-fakta empiris.

6.      Douglas McGregor dengan Teori X dan Y 
Mengungkapkan dua cara yang dapat dilakukan dalam mendalami perilaku manusia, yang terkandung dalam teori X (teori konvesional) dan teori Y (teori potensial).
Prinsip teori X didasarkan pada pola pikir konvensional yang ortodoks, dan menyorot sosok negatif perilaku manusia. Teori ini memandang manusia dengan kaca mata gelap dan buram yang menganggap manusia itu :
a)    Malas dan tidak suka bekerja;
b)   Kurang bisa dalam bekerja, menghindar dari tanggung jawab;
c)    Mementingkan diri sendiri, dan tidak mau peduli pada orang lain, karena itu bekerja lebih suka dituntun dan diawasi.
d)   Kurang suka menerima perubahan, dan ingin teteap seperti yang dahulu.

Teori Y dapat dikatakan merupakan revolusi pola pikir dalam memandang manusia secara optimis, karena itu disebut sebagai teori potensial. Teori Y pada dasarnya memandang manusia pada dasarnya :
a)    Rajin, aktif dan mau mencapai prestasi bila kondisi kondusif;
b)   Sebenarnya mereka dapat produktif, perlu diberi motivasi;
c)    Selalu ingin perubahan dan merasa jemu pada hal-hal yang monoton;
d)   Dapat berkembang bila diberi kesempatan yang lebih besar;

Kesimpulan dari teori X dan Y adalah :
a)      Kedua teori ini pada dasrnya memang berlaku dan dapat kita terima dalam memandang mausia, tipe-tipe perilaku yang cocok dalam kedua teori tersebut;
b)      Dalam memberi motivasi kepada bawahan,  manusia tipe X memerlukan gaya kepemimpinan otoriter, sedangkan manusia tipe Y memerlukan gaya kepemimpinan partisipatif.

II. Teori Motivasi Proses
Teori proses ini berlawanan dengan teori-teori kebutuhan yang diuraikan di atas. Teori-teori proses memusatkan perhatianny pada bagaimana motivasi terjadi. Dengan kata lain teori proses pada dasarnya berusaha menjawab pertanyaan bagaimana menguatkan, mengarahkan, memelihara dan menghentikan perilakuindividu agar setiap individu bekerja giat sesuai dnegan keinginan manajer. Bila diperhatikan secara mendalam, teori ini merupakan proses sebab akibat bagaimana seseorang  bekerja serta hasil apa yang telah diperolehnya. Jadi, hasil yang dicapai tercermin dalam bagaimana proses kegiatan yang dilakukan seseorang.
Ada tiga teori motivasi proses yang lazim dikenal yaitu teori harapan, teori keadilan dan teori pengukuhan (Sutrisno, 2009:154)
Teori harapan (Expectacy theory) menyatakan bahwa kekeuatan yang memotivasi seseorang bekerja giat dalam pekerjaannya bergantung pada hubungan timbal balik antara apa yang diinginkan dengan kebutuhan dari hasil pekerjaan itu. Berapa besar ia yakin perusahaan akan memberikan pemuasan bagi keinginan sebagai imbalan atas usaha yang dilakukannya itu. Bila keyakinan yang diahrapkan cukup besar untuk memperoleh kepuasannya, ia akan bekerja keras pula, dan sebaliknya. Teori harapan didasarkan atas harapan, nilai dan pertautan.
Teori keadilan (Equity Theory) menekankan bahwa ego manusia selalu mendambakan keadilan dalam pemberian hadiah maupun hukuman terhadap setiap perilaku relatif sama. Bagaiman perilaku bawahan dinilai atasan akan memengaruhi semangat kerja mereka. Keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja sesorang. Jadi, atasa harus bertindak adil terhadap semua bawahannya.
Stoner dan Freeman dalam Sutrisno (2009:156) menjelaskan bahwa kebanyakan  pembahasan dan penelitian mengenai teori keadilan berpusat pada uang sebagai imbalan yang dianggap paling penting di tempat kerja. Seseorang mebandingkan imbalan yang mereka terima untuk upayanya dengan imbalan yang orang lain terima.

Teori pengukuhan (reinforcmencet theory) didasarkan atas hubungan sebab dan akibat perilaku dengan pemberian kompensasi. Misalnya promosi bergantung pada prestasi yang selalu dapat dipertahankan.sifat ketergantungan tersebut bertautan dengan hubungan antar perilaku dan kejadian yang mengikuti perilaku itu.

Sumber : Sutrisno, Edy. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi 1. Kencana Prenada Media. Jakarta.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images